Thursday, July 24, 2014

Filosofi Sepeda

    Pernahkah teman-teman bermain sepeda? Mengendarai sepeda mengelilingi taman, jalanan kota, jalan-jalan di desa dengan maksud menikmati hari atau karena sepeda memang alat transportasi menuju tempat yang ingin didatangi? Mungkin bukan pertama kali kita naik dan mengendarai sepeda, tetapi setiap kita ingin memulai mengayuh sepeda pasti akan terasa berat pada awalnya. Yang menarik disini, walau terasa berat pada awalnya namun lama-lama semua terasa biasa, kayuhan akan terasa sangat ringan dan mudah, tapi sekali saja kita me-rem sepeda kita sehingga sepeda melaju lebih lambat atau bahkan berhenti, maka kayuhan akan terasa berat dan sulit kembali. Pernah menyadari hal ini? Sebenarnya hanya dari sepeda kita bisa mempelajari kehidupan. Simpel tapi berpengaruh besar jika kita sadar dan dapat memahaminya.
       Pada contohnya adalah dalam memulai suatu kebiasaan yang baik, biasanya akan diawali dengan rasa malas, sehingga semua yang dikerjakan terasa berat untuk dilakukan. Namun, jika kita merasa ikhlas, tenang, senang dan nyaman dalam menjalani kebiasaan baru yang baik untuk diri kita, maka semua akan terasa jauh lebih mudah dan kita pun menjadi semakin terbiasa tanpa merasa berat dan mengeluh di dalam hati. Seperti dalam mengayuh sepeda, saat kita terbiasa mengayuhnya maka kayuhan pun akan terasa semakin ringan. Dan jangan kita merubah kebiasaan dengan mendominasikan kembali rasa malas kita, sedikit saja rem yang kita lakukan saat sudah mulai terbiasa dalam melakukan suatu kebiasaan atau pekerjaan kita, maka kita akan merasa kesulitan dan berat saat ingin memulainya kembali.
       Maka cobalah untuk memulai kebiasaan yang baik untuk diri kita dan lakukan dengan perasaan bahagia layaknya mengayuh sepeda mengelilingi taman dengan santai agar apa yang kita kerjakan akan terasa lebih ringan dan mudah untuk dilakukan. ^^



Monday, July 21, 2014

The Last Time

       Hai kawan, sudah lama saya tidak menulis di blog karena beragam kesibukan yang ada. Ada banyak hal yang terlewati dengan cukup atau bahkan sangat menyedihkan belakangan ini. Salah satu hal menyedihkan yang ingin saya ceritakan pada kesempatan kali ini adalah saat kepergian Wigel. Wigel adalah burung hantu (celepuk) yang sudah saya pelihara sejak ia masih berusia 2 bulan. Wigel saya beli di daerah pasar burung Barito pada tanggal 28 Maret 2013 dan kemudian Wigel pun menjadi partner yang lucu, hebat, dan menyenangkan. Sehari-hari ia menemani saya saat belajar, istirahat dan melakukan kegiatan lainnya. Wigel tidak seperti burung lainnya, entah karena burung hantu memang seperti itu, atau karena Wigel memang berbeda. Ia selalu mengerti apa yang saya ucapkan. Segala apa yang saya larang tidak pernah ia langgar, seperti melarangnya hinggap di atas kasur. Sekalipun Wigel tidak dalam keadaan di dalam sangkar, tidak juga sedang terikat, saya tidak pernah takut melepasnya di luar karena ia selalu tahu kemana ia harus kembali. Selain itu, yang paling menarik adalah Wigel merupakn burung hantu yang takut akan kegelapan, sehingga setiap mati lampu, Wigel pun harus disinari senter agar tidak ketakutan.
       Saya dan Wigel bersama di rumah kost saya di daerah Depok, tuntutan mengejar ilmu membuat saya harus kost di daerah tersebut. Teman-teman takut dengan Wigel karena mitos yang mengatakan dimana ada burung hantu disitu pasti terdapat makhluk halus (hantu). Selanjutnya mereka pun akhirnya merasa mulai terbiasa dan terbukti tidak ada keanehan mistis yang terjadi karena adanya burung hantu di rumah kost saya, kost Adidarma.
       Wigel bukan hanya burung hantu milik saya, ia pun menjadi milik kekasih saya. Ketika saya lelah dan merasa malas membersihkan kandangnya, kekasih saya yang membantu membersihkan serta ikut bertanggung jawab dalam memberikan makanan untuk Wigel, yaitu berupa jangkrik. Awalnya Wigel belum bisa terbang, saya pun mulai mengajarkannya dengan membiasakan ia mengepakkan sayapnya. Saya meletakkan Wigel dilengan saya dan menaik turunkan lengan agar ia terbiasa mengepakkan kedua sayapnya yang masih berbulu halus layaknya kapas. Masih teringat sekali saat itu ia masih sangat kecil dan bersuara seperti anak ayam (aaakk akkk akkk) yang berteriak-teriak, sampai akhirnya suaranya berubah layaknya burung hantu biasanya (huuukk hukk hukk).
       Pada 2 minggu awal ia bersama saya, saya pernah melakukan kesalahan padanya. Saat itu saya sedang berlibur di rumah saudara yang memiliki anak kecil. Hari naas itu saya pergi ke daerah Kemayoran bersama papa saya, Wigel saya tinggal di rumah saudara saya di dalam sangkar. Waktu saya pulang saya kaget dengan keadaan Wigel, ia pincang saat berjalan, nunduk terus dan terlihat lemas. Mama saya bilang bahwa sangkarnya terjatuh tersenggol oleh adik sepupu saya. Saat itu saya takut ia mati dan itu sangat mengenaskan karena baru 2 minggu di tangan saya dan ia terluka karena kelalaian saya. Tetapi ternyata Wigel bertahan, ia pun berangsur sembuh, tetapi saat saya berlibur ke rumah saudara saya itu lagi, Wigel seperti trauma dan lebih banyak diam jika dibawa kembali kesana. Saya pikir tak apa, yang terpenting ia hidup dan baik-baik saja.
       Berbekal sekedar rasa ingin memiliki burung hantu tanpa pengetahuan yang cukup dalam merawatnya membuat saya akhirnya kehilangan ia untuk selamanya. Sebelumnya Wigel telah saya titipkan di rumah kekasih saya karena saya pergi ke Puncak, Bogor untuk waktu yang cukup lama. Karena tak ada yang menjaga dan merawatnya, maka saya akhirnya menitipkan ia pada kekasih saya. Saat itu adalah bulan Desember 2013 yang lalu. Saat saya sudah kembali ke Depok, Wigel belum bisa kembali bersama saya karena keadaan cuaca yang selalu hujan sehingga tidak mungkin kekasih saya mengendarai motor dan membawa Wigel ke kost saya. Akhirnya Wigel pun tetap tinggal bersama kekasih saya.
       Pada bulan Februari 2014 Wigel sakit, ia seperti merasa berat pada kepalanya. Setiap ia melihat ke satu arah, perlahan kepalanya tertunduk, begitu terus berulang-ulang. Dan akhirnya saya dan kekasih memutuskan membawa ia ke dokter dan untuk pertama kalinya ia pun di vaksin. Vaksin adalah pencegah penyakit, tetapi bukan penyembuh penyakit. Ternyata Wigel sudah mengidap penyakit yang lebih dikenal dengan sebutan tetelo ayam yang menyerang unggas, penyakit ini mematikan fungsi saraf serta mengganggu sistem pernafasan unggas. Seiring waktu berlalu Wigel akhirnya membaik, tetapi ternyata tidak lama. Wigel kembali sakit dan lebih parah, ia terjatuh dari kayu tempat ia hinggap di dalam sangkar dan tidak dapat bangun. Sekeras apapun ia berusaha bangun, Ia tidak dapat berdiri di atas cakar kecilnya itu. Tepat tanggal 31 Mei 2014 kejadian tersebut terjadi, Wigel kembali sakit. Saya pun dijemput kekasih saya untuk melihat keadaan Wigel. Sejak saya datang, ia tidak mau dipegang siapapun selain saya, ia berontak dan lebih merasa nyaman jika saya yang memegang dan menggendongnya. Singkat cerita, saya terlalu sedih untuk menceritakan secara detail kejadian malam itu, akhirnya Wigel pun menghembuskan nafasnya yang terakhir pada malam itu. Hari itu menjadi the last time saya melihat mata belonya dan mengelus bulunya.
       Selamat jalan Wigel, dan terima kasih bagi yang sudah membaca postingan saya ini. Sampai jumpa di lain cerita yaa.. :)

Saturday, November 23, 2013

Anak Jalanan/Anak Warnet??

        Pagi hari ini saya terbangun dengan mata yang bengkak, wajah yang kusut, rambut berantakan dan enggak ada niat sedikit pun untuk berangkat kuliah. Mengingat hari ini adalah mata kuliah Statistika yang jelas jauh dari minat saya (Memang apa minatnya? Enggak ada). Saat ini pun saya mengetik tulisan enggak jelas ini ditengah-tengah dosen tercinta mengajar, tapi karena rasa kantuk yang luar biasa melanda akhirnya saya memilih untuk bercerita ngalor ngidul. Ada salah satu dosen saya yang menasihati agar sebagai mahasiswa, kami harus rajin membaca dan menulis agar dapat berpikir lebih kritis dengan wawasan yang lebih luas. Yang dimaksud dosen tentunya membaca dan menulis apa yang sesuai dengan mata kulah, jurusan, dan fakultas yang sedang dijalani saat ini, kebetulan saya bagian dari mahasiswi Ilmu Komunikasi maka seharusnya tentang Komunikasilah yang saya pelajari. Namun kesukaan saya yang lebih dominan membaca novel dan menulis hal-hal yang enggak jelas membawa saya kesini. Pada kesempatan kali ini, entah kenapa saya tertarik untuk membahas tentang anak jalanan.
        Pernahkah kalian melihat anak jalanan? Anak-anak dibawah umur yang berada di jalanan, mengamen, mengemis dengan wajah yang memelas sehingga membuat orang-orang di sekitarnya merasa kasian dan iba sehingga memberikan beberapa receh atau lembaran uang untuknya. Atau pernah merasa kesal dengan mereka yang meminta dengan paksa? Sehingga kalian memberi mereka uang hanya karena merasa takut mereka bertindak nekat dan mencelakai kalian? Atau ada yang punya kisah lain? Saya pribadi pernah mengalami kisah yang berbeda dari yang sudah saya tanyakan sebelumnya, yaitu menemukan anak jalanan yang dengan sengaja mengotori wajahnya, mengemis, mengamen hanya demi diberi uang untuk main ke warnet. Ya mereka dengan asyik pergi ke warnet dan bermain game online. Sebenarnya mereka bukanlah anak-anak dari keluarga yang kurang mampu, sebagian dari mereka adalah anak-anak dari keluarga sederhana namun berkecukupan. Rasa malas mereka untuk sekolah membawa mereka ke pintu gerbang warnet (apa kali pintu gerbang warnet -_-). Uang saku yang jelas diberikan oleh orang tua mereka dengan maksud untuk jajan (makanan) berakhir di laci keuangan warnet. Dan bagi mereka yang sudah ketagihan dengan euforia kemenangan pada games-games tertentu tetapi tidak memiliki uang lebih dan merasa takut jika harus meminta uang saku tambahan dari orang tua mereka, maka mereka nekat menjadi anak-anak jalanan palsu demi mendapatkan uang tambahan.
     Lalu siapa yang harus disalahkan atas peristiwa tersebut, apakah industri warnet? Apakah para kreator games? Apakah orang tua anak-anak jalanan palsu tersebut? Atau dari anak-anak itu sendiri? Sulit untuk memastikan siapa yang bersalah. Karena tidak jarang didikan orang tua yang sudah baik, tapi dari anaknya sendiri yang akhirnya melakukan kesalahan. Memang sejak dini anak-anak harus diajarkan hal-hal baik dari keluarga, pendidikan agama dan pendidikan sosial pun wajib turut serta mendampingi anak sejak dini. Namun ajaran-ajaran dari lingkungan sekitarlah yang biasanya lebih memengaruhi anak dalam membentuk sifat dan sikap pada kesehariannya. Anak-anak tidak dapat dituntut terlalu mengikuti peraturan, ada kalanya orang tua hanya memperhatikannya dari belakang dan menyentuh bahkan memegangnya hanya disaat dia butuh atau mulai keluar dari jalurnya. Anak-anak yang terlalu dikekang biasanya akan menjadi liar di kemudian hari, karena mereka baru merasa bebas dan selalu ingin mencoba segala hal yang baru entah hal baik maupun hal yang kurang baik untuk mereka. Mereka yang sebelumnya merasa terkurung hingga kurangnya pengetahuan dan pengalaman mereka terhadap dunia luar akan membuat mereka salah jalan.

        Masuknya dunia globalisasi memang disertai hal-hal positif namun tidak menutup kemungkinan membuka jalan bagi hal-hal negative. Kecanduan anak terhadap warnet dengan berbagai macam alas an seperti mengerjakan tugas sekolah dan searching materi-materi guna menambah wawasan justru dapat membawa mereka ke jurang. Dari situs-situs game online hingga situs-situs porno dapat mereka dapatkan dengan mudahnya tanpa pengawasan ketat dari orang yang lebih dewasa di sisinya. Maka sebaiknya para orang tua harus lebih waspada kemana uang saku yang telah Anda berikan pada anak Anda. Semoga para pembaca bukan salah satu orang tua yang kelalaian terhadap perilaku anak dan juga bukan salah satu anak yang sedang bolos sekolah dan memilih ke warnet. Gunakan fasilitas warnet sebaik-baiknya untuk menambah ilmu dan wawasan yang lebih luas. 

        Ya sudahlah, terlalu panjang juga untuk dibahas lebih lanjut, dan jika saya teruskan semakin lama ini bisa-bisa menjadi sebuah PI (Penulisan Ilmiah). Jadi saya selesaikan saja sampai disini selain takut semakin kacau, saya juga sudah mulai lelah. See ya next time… XD

Referensi gambar:


Tuesday, November 12, 2013

Part 1



      Sebenarnya saya bingung mau mulai dari mana, ketikan ini dimulai tepat pukul 01.30 WIB dini hari pada tanggal 13 November 2013. Enggak tahu juga kenapa, dari tadi saya enggak bisa tidur dan kerjaannya cuma mentengin TL (timeline twitter). Sekalinya taro HP dan berniat merem, yang ada malah otaknya jalan terus (pertanyaannya, emang saya punya otak?). Jelas punya tapi jelas bukan untuk soal pelajaran.... Alahhh jadi ngaco. Enaknya metode pengetikannya formal apa enggak ya? Karena blog ini juga biasa saya pakai untuk tugas-tugas kampus, tapi kalau terlalu formal juga jadi agak kaku dan sulit untuk beradaptasi (?). Daripada bingung enggak jelas, yaudah kita (saya dan bayangan saya) putuskan untuk memakai metode pengetikan semi formal XD Jadi dibebaskan kata-kata gaul, emotikon unyu-unyu, dan lain sebagainya yang kita anggap sah dan halal.
        Baiklah dimulai dari perkenalan dulu aja kali ya, ceritanya mau eksis dan biar dikenal sama orang. Ini memang bukan postingan pertama saya di blog ini, cuma kalau enggak salah ingat saya belum pernah mengenalkan diri saya, latar belakang saya, serta riwayat pendidikan saya (berasa mau buat surat lamaran kerjaan -_-"). Kita mulai dari nama, nama saya Seciolivia Purtyani biasa dipanggil Seci atau Livi, anak tunggal dari bapak Purnomo Agus Trikoranto, SS dan ibu Meutia Wardhani Abjanti, SS. Dilahirkan ke dunia fana ini pada 09 Desember 1993 dengan berat 3,6 kg dan panjang 50 cm (plissss jangan nanya berat saya sekarang), tp tinggi berubah menjadi 165 cm di umur yang menjelang kepala dua ini. Dulu saya tinggal di salah satu perumahan (yang dulunya elite) di daerah Tangerang selama hampir seumur hidup saya. Pernah merasakan Taman Kanak-Kanan (TK) di TK Jaya, lalu meneruskan ke jenjang SD di SD N Cikoeya 2, dilanjutkan SMP N 02 Cisoka (kini SMP N 01 Solear), dan mengakhiri masa sekolah dengan seragam pada SMA S Mandiri Balaraja (Jangan nanya dimana...). Saat ini masih menjadi mahasiswi aktif fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma, saya menjadi salah satu mahasiswi beruntung yang mendapatkan beasiswa 100% dari kampus tersebut selama 4 tahun untuk mendapatkan gelar S1 Ilmu Komunikasi. Pada detik ini saya menjadi mahasiswi tingkat 3 yang lagi stres-stresnya menyiapkan bahan-bahan PI (Penulisan Ilmiah). PI ini yang akan menjadi syarat dalam membuat skripsi pada tingkat akhir nanti. Maka dari itu, saya benar-benar butuh sharing walau enggak jelas yang setidaknya bisa mengurangi beban otak saya yang masih dicurigai keberadaannya.

        Pertama kali masuk Gunadarma tahun 2011....eitttssss SALAH.. Pertama kali masuk Gunadarma saat saya masih kecil dan ikut tante saya yang notabenenya salah satu dosen Univ. tersebut. Tapi jangan berpikir saya bisa masuk karena ada campur tangan beliau, tapi karena saya beruntung. Yakin banget dewi Fortuna itu disebelah terus, amin. Jika boleh lebih terbuka, Universitas Gunadarma bukan pilihan pertama saya saat memasuki kelas 3 SMA, tetapi jalan berkata lain dan membawa saya ke Univ. Gunadarma. Bukan sebagai yang terpintar, bukan juga sebagai yang tidak layak di kampus ini. Hanya saja sekali lagi saya hanya beruntung. Merasakan minder minta ampun di kelas? PASTI, SERING, SELALU, dan sepertinya SELAMANYA. Bukan talenta saya dalam hal berkomunikasi, ketika marah saya akan berkata kasar, ketika cemburu saya diam, ketika takut saya gagap, ketika sedih saya hanya menangis, ketika saya 4L4y saya akan sok imut. Saya bukan seseorang yang pintar dalam memilih kata dan berkomunikasi dengan baik dengan diri saya (intra personal) atau dengan orang lain (inter personal). Mungkin saya nyangsang di fakultas ini, tapi kalau iya, saya harusnya dimana? Berkali-kali saya tanyakan hal tersebut pada diri saya, tapi saya tidak dapat mengetahui jawabannya. Saya bukan seseorang yang ahli dengan hitung-menghitung, dan saya juga enggak ahli dengan hafalan. Saya menyukai sesuatu hanya saat saya mood saja. Saya suka menulis, membaca (novel, BUKAN metodologi dan teman-temannya), bermain piano (hanya pada dasar C D E F G A B C), saya suka bernyanyi (pernah menjadi bagian dari Swara Darmagita, Choir Univ. Gunadarma) dan saya suka binatang (cacing, serangga, hewan ternak bukan bagian dari yang saya sukai), saya pun suka mendesain gaun-gaun unyu (masih mengikuti gaya fashion khas orang lain). Saya tidak memiliki keahlian khusus pada salah satu bidang, tetapi saya menyukai semua itu dan hanya pada periode tertentu saja.

        Kalau ditanya sibuk apa saat ini, saya akan menjawab: Sibuk mengkhayal. Ya saya mengkhayal kapan saya lulus, kapan saya bisa menemukan bakat saya, keahlian saya, dan berhenti menjadi benalu bagi orang-orang di sekitar saya. Selain itu, saat ini saya sibuk dengan burung hantu kecil kesayangan saya, Wigel dan kura-kura yang dulunya kecil sekarang sudah berat untuk digendong, Frankleen. Seperti yang tadi saya beri tahu, saya suka binatang. Untuk kesibukan kampus, setelah saya memutuskan berhenti menjadi bagian dari choir Swara Darmagita, saya kini hanya menjadi kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Sibuk sih enggak juga, cuma terkadang merasa menjadi sendiri dan disibuki oleh pekerjaan kampus yang sebenarnya bisa dikerjakan bersama (kelompok). Curhat dikit (banyak mungkin), belum lama ini dan masih berjalan hingga saat ini, saya menjadi bagian dari kelompok salah satu mata kuliah yang terdiri dari tiga orang. Hanya saja pada kenyataan yang ada, saya hanya bekerja sendiri, kenapa begitu? Mungkin tidak sepenuhnya sendiri, tapi dengan pembagian sistem kerja yang kurang adil membawa saya ke dalam kelelahan yang amat dahsyat (ceritanya lebay). Saya mencari materi, merombaknya hingga berbentuk makalah, menjadikan power point, memasukkan suara saya yang membaca materi. Sedangkan satu teman saya hanya mengedit video yang jauh dari kata kreatif, satunya lagi asyik sendiri (katanya orang entertaint <- benar enggak sih tulisannya? maaf kalau salah). Tapi ketika dipresentasikan di depan kelas dan dianggap "buruk" dengan kekuarangan materi, tidak menguasai materi, kurang personil, video aneh dan membosankan, diakhiri dengan saya yang disalahkan sepenuhnya oleh teman (bukan pada arti sesungguhnya) sekelompok saya. Rasanya mau marah, nangis, teriak-teriak enggak jelas, pokoknya sudah diambang kegilaan mungkin, tapi yasudahlah ya inilah dunia kampus. Sudah ah cerita bagian itu, huft mulai lelah dan mata mulai setengah.. -o- Selain itu, saat ini tepat siang tadi menjadi panitia dua lusin pembentukan himpunan pada divisi acara (ceritanya bangga).
        O iya, sebelumnya sudah pada baca novel karya saya belum? Saya menulis novel berjudul "Aku" yang tidak diterbitkan dengan buku, tetapi saya posting pada blog ini juga. Cerita cinta anak remaja (cailehhhh.. ) yang diceritakan dengan alur maju mundur (eps. ganjil alur maju dan eps. genap alur mundur). Ya kalau masih bingung silahkan dibaca dulu, kalau masih bingung mungkin yang ketiknya "agak-agak" XD Tapi sampai saat ini sih belum diteruskan lagi, dan masih mandeg di eps. 3, jadi kalau mau baca baru eps. 1 dan 2 saja yang sudah dipostingkan. Maklum kan ceritanya orang sibuk, jadi suka enggak ada waktu buat mengkhayal dan meneruskan cerita tersebut.

        TK, SD, SMP, SMA, Kampus, curhat, novel, hmm apalagi ya? Ohh soal cinta..Eaaaa Okay, saya pemilik lengkap Seciolivia Purtyani ini sudah resmi menjadi kekasih dari Kusnanto (Aponk/Anto), pria sederhana yang sempurna di mata saya. Salah satu alumni SMK N 01 Jakarta Budi Utomo (Boedoet) lulusan tahun 2011 dan kini menjadi pekerja di Denso, Cikarang. Lelaki yang telah menyatakan cintanya pada saya tepat tanggal 06 Juni 2012 dan melakukan ritual (berasa mistis malahan) tukar cincin dihadapan kedua orang tua kami pada 09 Desember 2012. Tenang, belum sampai pelaminan karena kondisi ekonomi, mental dan kampus (aturan dilarang menikah sebelum lulus). Mengenal laki-laki ini hampir 2 tahun belakangan ini (dulunya mantan orang yang paling dekat, sebut saja G), dan kini kami sudah menjadi sepasang kekasih selama 17 bulan. Banyak halang rintangan menjadi seorang pelajar, tetapi juga sudah bisa dibilang telah terikat pada komitmen antar dua sejoli. Ketika tugas memaksa untuk fokus, sang kekasih juga minta perhatian. Memilah dan memilih waktu ternyata sulit juga, antara tugas, kekasih, teman, saudara, keluarga. Tetapi sekali lagi inilah hidup, tanpa rintangan tanpa kenangan, simple.
        Baiklah, berhubung mata sudah menuntut untuk istirahat, dan otak (yang masih belum diketahui keberadaannya) sudah mulai shut down, maka sekian tulisan gila saya ini. Mudah-mudahan lain waktu bisa nulis lagi dan yang pasti bisa meneruskan novel eps. 3 dan seterusnya, amin. Terima kasih buat yang sudah mau baca, sampai jumpa. ;)

Tuesday, October 1, 2013

TUGAS I (STATISTIKA)

Nama                          : Seciolivia Purtyani
NPM/Kelas                : 18811937/3 MA 01
Mata Kuliah              : Statistika
Tugas                          : I (Satu)


1.      Mengapa seorang ahli komunikasi perlu mempelajari statistika?

Ilmu komunikasi merupakan ilmu dalam menyampaikan suatu pesan atau informasi dari seorang komunikator (ahli komunikasi) dengan suatu media kepada komunikan yang mengakibatkan efek atau respon dan memiliki makna di dalamnya. Suatu pesan atau informasi tersebut dapat juga disebut dengan data (statistik). Statistika merupakan ilmu mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi dan mempresentasikan data. Jadi mengapa seorang ahli komunikasi perlu mempelajari statistika adalah agar dapat mengetahui strategi atau ilmu dari merencanakan, mengumpulkan hingga mempresentasikan suatu data tersebut dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya (komunikan).

2.    Peran statistika dalam mempelajari bidang ilmu komunikasi?
a.       Membantu dalam merencanakan suatu penelitian komunikasi.
b.      Membantu dalam mengumpulkan data atau informasi dalam bidang komunikasi.
c.       Membantu menganalisis suatu kasus atau masalah yang terjadi dalam komunikasi.
d.      Membantu menginterpretasi data atau informasi dalam bidang komunikasi.
e.       Membantu mempresentasikan suatu data atau informasi dalam bidang komunikasi.
f.       Membantu dalam pengambilan keputusan.

g.      Sebagai salah satu metode yang digunakan dalam penelitian dengan pendekatan kuantitatif.

3.   Kumpulkan contoh kasus, anekdot, karikatur mengenai sisi humoristik statistika!
    a.       *TKP (lokasi pembunuhan*
Polisi (P), Dokter (D), dan Dosen Statistika (DS)
P         : Melihat dari bentuk cipratan darah di lantai tersebut, sepertinya ini milik tersangka pembunuhan yang tertembak saat mencoba kabur dari kejaran kami.
D     : Saya memilih untuk mengambil sampel darah tersebut dan mengujinya dalam laboratorium.
DS        : *berkeliling ruangan*
P dan D: Hey apa yang Anda lakukan?
DS      : Saya sedang mencari data-data kemungkinan adanya peluang lain terhadap darah tersebut.

     b.    







Tuesday, June 25, 2013

Ambillah Minimal, Berikanlah Maksimal

Mata Kuliah     : Grafika komputer Untuk Komunikasi
Dosen              : Donny Erlangga, S. Kom., MMSI.
Tugas               : Aplikasi Google SketchUp
Fakultas/Kelas  : Ilmu komunikasi/ 2 MA 01
Nama Kelompok:
  • Seciolivia Purtyani (18811937)
  • Fajar Nur Cahyo (18811951)
  • Intan Rachwati (18811965)
  • Arief Budiaman (18811966)




Filosofi :
    Dari sekian banyak pohon, gunakanlah seperlunya. Karena sebagian besar apa yang kita butuhkan dalam kehidupan kita, merupakan hasil dari pohon.
  Namun, jangan lupa untuk merawat dan melestarikan sisanya. Bahkan tanamlah kembali untuk kesejahteraan di kemudian hari.
     Tutorial:
  1. Buatlah kotak dasar dari rectangle untuk alas tepat sejajar dengan garis merah (horizontal). Gunakan offset untuk membuat rectangle dengan sisi yang sama di dalamnya. Pilih paint bucket – vegetation – vegetation_HoneyLocust untuk alas dalam, dan pilih paint bucket – vegetation – vegetation_Ivy_Hedera untuk alas luar.
  2. Buatlah kotak dengan rectangle sejajar dengan garis biru, gunakan Push/Pull untuk mempertebal kotak, kemudian pilih paint bucket – fencing – fencing_wood_old  dan lakukan pada ke empat sisi alas untuk membuat pagar.
  3. Buatlah kotak dengan rectangle sejajar dengan garis merah lalu beri warna wood_floor_dark. Lalu buatlah kotak kembali dengan rectngle sejajar dengan garis hijau pada dua sisi dan satu sisi pada garis merah, gunakan push/pull untuk mempertebal (seolah dinding) dan beri warna  wood-plywood_knots untuk dinding. Buat kembali kotak dari rectangle sejajar pada garis hijau, gunakan line dan buatlah garis sehingga terbentuk segitiga, lalu gunakan eraser dan hapus garis yang tidak diperlukan, selanjutnya gunakan push/pull untuk mempertebal sesuai panjang dari rumah, lalu warnai dengan menggunakan warna roofing_shingles_GAF_States.
  4. Untuk membuat pohon, gunakan circle sejajar dengan garis merah. Pilih push/pull untuk mempertebal dan tariklah keatas menyerupai batang pohon. Untuk membuat akar dan efek garis pada pohon, gunakan Draw – Freehand dan lukislah sesuai keinginan. Untuk membuat rimbun dedaunan pohon juga gunakan Draw – Freehand dan lukislah sesuai keinginan, lakukan berkali-kali agar terdapat kesan bertumpuk. Lalu gunakan push/pull untuk mempertebal dankemudian satukan dengan batang pohon.
  5. Untuk lemari, gunakan rectangle sejajar pada garis biru, pilih push/pull untuk mempertebal.
  6. Untuk meja, gunakan rectangle pada garis merah dan pilih push/pull untuk mempertebal seolah papan kayu. Untuk kaki-kaki meja, gunakan kembali rectangle dan pilih push /pull kembali. Hal ini juga dilakukan pada pembuatan kursi. 


Thursday, May 30, 2013

Aku 'eps. 2'_Novel

Fiuh, dengusku kesal sambil menyandarkan punggungku pada senderan bangkuku.
“Ada apa lagi sih? Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu aja terlihat terlalu lelah setiap habis membagikan kertas piket kelas? Bukankah ini sudah biasa kamu lakukan sejak setahun yang lalu, Cyl?” Tanya sahabatku, Suvanna, dengan tampang yang sepertinya mulai bosan melihatku seperti ini, terlihat murung dan lelah.
“Gimana aku enggak bete sih Van, kamu tahu kan Van kalau naik ke lantai 3 itu capek. Tapi bukannya aku lihat anak-anak kelas 1 yang baik-baik dan penuh senyum, eh malah lihat si cowo aneh. Masa dia selalu bilang ‘ngapain anak plus main-main kesini’ dengan nada yang ngeledek. Emang dia pikir dia siapa?!” Jawabku kesal setengah memarahi Suvanna, padahal kan bukan dia yang salah.
“Yee... kenapa jadi aku yang diomelin sih? Siapa sih cowo aneh itu? Awas kepincut, hehehe.”
Mendengar ledekan Suvanna membuat aku semakin bete dan memutuskan untuk tidak menanggapi omongan yang menurut aku sangat ngawur. Enggak kebayang deh kalau sampai aku jadian sama seorang Dinat yang nyebelin itu, bisa stres tiap harinya diledek sama itu bocah brondong.
“Kalau sampai jadian sama cowo aneh itu, jangan lupa traktir-traktir ya...hehehe...” Lanjut Gityara meledek. Setelah puas membuat aku semakin bete, mereka pun mulai membicarakan topik lain yang aku sendiri tidak fokus mendengarkan justru aku mulai melamun.
Memang akhir-akhir ini setiap harinya  terlewati dengan rasa bete, apalagi setiap harus membagikan kertas piket ke kelas-kelas, terutama ke lantai 3 dimana kelas Dinat berada. Memang Dinat tidak melakukan kesalahan yang fatal atau berlaku kurang ajar padaku, tapi bagaimana tidak kesal kalau setiap bertemu dengannya pasti selalu dia ungkit mengenai program kelas kita yang berbeda. Dinat yang merupakan siswa program reguler sedangkan aku merupakan siswi program plus. Selama aku bersekolah di SMA ini, aku selalu tidak suka perbedaan antara plus dan reguler. Karena bagiku tak ada spesialnya menjadi anak plus ataupun reguler, semua sama dan berada di bawah satu yayasan yang sama.
Rasa bosan itu semakin mendera apalagi mengingat ada rasa rindu yang tersirat setiap ada yang membicarakan sang mantan yang sedang berjuang latihan untuk pengibaran di Kabupaten. Entah kenapa, padahal sudah hampir 3 bulan setelah berpisah dengannya dan hubungan kami pun juga enggak lama Cuma 13 hari, tapi rasa rindu itu jadi muncul lagi. Ya ampun, kenapa jadi mikirin Jenaf sih... jelas-jelas sekarang kan aku lagi PDKT sama si Lefan, ckckck.
Tapi kalau diinget-inget lucu juga waktu dulu aku sama Jenaf, kita kelamaan PDKT jadi waktu pacaran malah jadi terasa aneh. Apalagi dulu aku bodoh banget bisa percaya omongan orang lain yang syirik sama aku dan Jenaf, aku terlalu percaya tentang Jenaf yang enggak benar semua, yang akhirnya malah menghancurkan hubungan kami sendiri.
Jenaf begitu baik apalagi selama kita berdua masih kompak sebagai capas mewakili SMA kami untuk pengibaran dulu. Dia perhatian, lucu, gemesin dan yang paling unik rambutnya yang mirip jambul marmut. Tahu kan hewan marmut yang mirip tikus itu tapi banyak bulunya, Jenaf itu mirip sama marmut makanya aku senang banget manggil dia marmut dan dia manggil aku bebek karena aku cerewet kayak bebek katanya.
Banyak yang berharap aku balik lagi dengan Jenaf, tapi enggak sedikit juga yang terus support aku jadian sama Lefan. Satu dalam prinsip aku, yang lalu ya biarlah berlalu walau biasanya aku selalu memberikan kesempatan kedua pada mantan-mantanku, tapi kayaknya tidak untuk Jenaf. mungkin kita memang lebih cocok sebagai teman atau sahabat.
“Woy Secyl! Ngelamun aja ih, tuh kamu gak sadar pak Laturian sudah masuk! Makanya jangan mikirin Dinat aja.” Kata Suvanna setengah berteriak membangunkan aku dari lamunan rasa rindu terhadap Jenaf dan langsung meledekku.
Untung saja Suvanna tidak tahu bahwa yang aku lamunkan bukan Dinat, tapi Jenaf. Karena rasa rindu yang terlalu dalam pada Jenaf, aku jadi melamun tentang dia padahal kan belum tentu Jenaf memikirkan aku di medan perjuangan lapangan pengibaran Kabupaten itu. Untung saja Suvanna membangunkan aku dari lamunanku, kalau sampai pak Laturian tahu aku melamun, beuh bakal disuruh tutup pintu dari luar kali.
Mengenai pak Laturian aku juga punya ceritanya, beliau adalah seorang guru mata pelajaran. Pak Laturian termasuk guru yang tegas, baik, unik, tapi sedikit membosankan, ya mungkin karena aku yang kurang bahkan sangat tidak menyukai mata pelajaran yang beliau ajarkan sehingga terasa sangat membosankan.
Pak Laturian Pramajata bukan hanya seorang guru biasa, tapi beliau juga merupakan salah satu murid eyang putriku selama beliau bersekolah di salah satu Universitas negeri di Indonesia. Hal ini sungguh menyiksaku, menjadi seorang cucu dosen Fisika di salah satu Universitas ternama namun aku sama sekali tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Apalagi setiap dapat soal dari pak Laturian yang harus dikerjakan di papan tulis, bakal kelihatan bodohnya diriku terhadap Fisika dan pak Laturian akan segera berkata ‘memalukan, cucu seorang dosen Fisika kok malah tidak mengerti sama sekali pelajaran Fisika?!’. Dan jika sudah keluar kalimat tersebut, aku hanya dapat diam, merengut, dan mengutuki diri sendiri kenapa begitu bodohnya diriku terhadap mata pelajaran ini.
Selama 2 jam mata pelajaran pak Laturian berlangsung biasanya kerjaan aku dan sahabatku Gityara adalah mengobrol atau chat lewat kertas. Namun pemilik nama lengkap Gityara Caneva Mugistra ini masih lebih memperhatikan pak Laturian dibandingkan aku yang lebih memilih mencoret-coret buku tulis dengan puisi-puisi jika Gityara sedang tidak ingin mengobrol.
Gityara, hmm pemilik nama ini selalu membuat aku tersenyum. Walaupun sahabatku bukan hanya dia tetapi Gityaralah yang paling dekat denganku. Mungkin juga dikarenakan rumah kami yang berdekatan sehingga kami lebih sering bertemu dibandingkan dengan Suvanna. Hobi kami pun yang tidak berbeda jauh seolah semakin merekatkan tali persahabatan kami. Gityara Caneva Mugistra si pecinta kucing, komik-komik romantis Jepang dan novel teenlit, yup itu semua juga kesukaanku. Bagiku Gityara adalah sosok perempuan yang sebenarnya, ia bisa memasak, menjahit, beberes rumah, pintar di sekolah dan sangat lembut dalam bertutur. Aku rasa jika aku seorang laki-laki, aku pasti mencari perempuan layaknya sosok Gityara, I think she is the best woman I ever met after my mom.
“Baik Secyl giliran kamu menjawab nomor tiga.” Pak Laturian pun mengagetkanku dengan perintahnya yang menjengkelkan.