Monday, February 2, 2015

Tanah Ini Masih Tanah Surga

       “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada topan tiada badai kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu….” Masih ingatkah kita pada penggalan lirik lagu tersebut? Lagu yang dinyanyikan oleh Koes Ploes dengan judul ‘Kolam Susu’ tersebut pertama kali diputar pada tahun 70–an, menceritakan betapa kayanya alam di Indonesia dan dengan iklim yang baik tanpa adanya topan maupun badai yang menghampiri. Namun apa kabarnya Indonesia kini? Semakin banyak alam yang rusak, bencana datang karena ulah masyarakatnya seniri, hingga polusi yang semakin merajalela, lalu masih pantas dan layakkah tanah kita ini disebut tanah surga? Bahkan diatas satu tumpengan nasi kuning dan kawan-kawannya dalam menyambut upacara adat pun berisi hasil pangan negara lain. Jika memang tanah kita adalah tanah surga, lalu masih haruskah kita impor aneka bahan pangan yang sebenarnya bisa kita dapatkan di tanah kita sendiri? Mirisnya, masih banyak hal lain yang kita dapatkan dari negara-negara tentangga lainnya, mulai dari gadget, otomotif, bahkan mainan anak-anak sekalipun bukan buatan asli negara kita. Sedikit demi sedikit yang kita miliki diakui oleh negara lain sebagai milik mereka. Kita ini merdeka? BELUM, jelas belum, sadarlah kita ini masih dan sedang dijajah. Memang tak seperti jaman perjuangan 45 dulu yang jelas kita berperang melawan penjajah di depan mata dengan menggunakan bambu runcing sebagai senjata sekedarnya melawan senjata api milik para penjajah. Tetapi kini kita tetap tak bisa diam, masih banyak hal yang perlu diperjuangan demi bangsa ini. Kita yang mengira telah benar-benar merdeka, sebenarnya sedang menjadi umpan lezat bagi negara-negara tetangga yang sebenarnya tahu dimana letak kelemahan kita.

            Mereka mengetahui dimana letak kelemahan kita, bukanlah suatu hal yang baru. Bahkan sebenarnya kita sadar namun tidak berusaha memperbaiki. Semua memilih diam, mencoba menutupi dan pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kita ini terlalu mempedulikan dan mengangkat hal-hal kecil dan mengubur dalam-dalam hal-hal yang besar. Bukan maksud kita diamkan juga hal kecil, tetapi jangan kubur hal besar. Terlalu menonjolkan apa yang sebenarnya tidak terlalu masyarakat perlu untuk tahu. Masyarakat sudah terlalu hafal apa saja yang ada di negeri ini tanpa mereka tahu hal apa yang sebenarnya ada didalamnya. Tanpa mereka sadari hal itu sebenarnya sedang berusaha “menutupi” masalah lain yang seharusnya lebih menjadi pusat perhatian bangsa. Berhenti untuk tetap diam dan menutup mata, telinga serta mulut untuk mulai melakukan gerakan. Kita tahu dan memang harus tahu masalah utama yang sedang dialami negeri ini. Hentikan impor bahan pangan dan mulailah mengangkat bahan pangan negeri dan jika mampu lebih baik kita yang ekspor ke negara tetangga. Mulailah menyukai segala produk dalam negeri, bukan hanya berupa saran tetapi buktikan kalau produk dalam negeri mempunyai kualitas yang setara bahkan lebih baik dari produk luar.

            Selain itu, sadarkah bencana apa yang paling sering melanda negeri kita, khususnya ibu kota? Ya Banjir menjadi hal yang biasa. Mendengar musim rambutan, musim mangga, musim kemarau, musim hujan, lalu apa bisa dikatakan musim banjir dan dianggap hal yang biasa seperti musim-musim lainnya yang tadi disebutkan? Jangan hanya berkata, tetapi lakukanlah sebuah tindakan, jangan hanya mengandalkan orang tetapi cobalah mulai dari diri sendiri. Jangan terlalu dan selalu mengemis kinerja pemerintah untuk memperbaiki itu semua, tetapi cobalah berkaca apakah kiranya tindakan kita sendiri sudah benar dalam menghindari banjir. Apakah kita pernah berjuang demi bangsa, melindungi serta merawat sumber daya alam dan lingkungan negeri ini. Wujudkan sudut pandang kaca mata Koes Ploes dalam lirik lagu ‘Kolam Susu’, bahwa negeri kita ini kaya, negeri kita ini luar biasa, tanah air kita ini adalah tanah surga. Bangkitkan perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan, karena tanah surga ini terlalu indah untuk terjajah kembali.

No comments:

Post a Comment