“Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada
topan tiada badai kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu….” Masih
ingatkah kita pada penggalan lirik lagu tersebut? Lagu yang dinyanyikan oleh
Koes Ploes dengan judul ‘Kolam Susu’ tersebut pertama kali diputar pada tahun 70–an,
menceritakan betapa kayanya alam di Indonesia dan dengan iklim yang baik tanpa
adanya topan maupun badai yang menghampiri. Namun apa kabarnya Indonesia kini?
Semakin banyak alam yang rusak, bencana datang karena ulah masyarakatnya seniri,
hingga polusi yang semakin merajalela, lalu masih pantas dan layakkah tanah
kita ini disebut tanah surga? Bahkan diatas satu tumpengan nasi kuning dan
kawan-kawannya dalam menyambut upacara adat pun berisi hasil pangan negara
lain. Jika memang tanah kita adalah tanah surga, lalu masih haruskah kita impor
aneka bahan pangan yang sebenarnya bisa kita dapatkan di tanah kita sendiri?
Mirisnya, masih banyak hal lain yang kita dapatkan dari negara-negara tentangga
lainnya, mulai dari gadget, otomotif, bahkan mainan anak-anak sekalipun bukan
buatan asli negara kita. Sedikit demi sedikit yang kita miliki diakui oleh
negara lain sebagai milik mereka. Kita ini merdeka? BELUM, jelas belum,
sadarlah kita ini masih dan sedang dijajah. Memang tak seperti jaman perjuangan
45 dulu yang jelas kita berperang melawan penjajah di depan mata dengan
menggunakan bambu runcing sebagai senjata sekedarnya melawan senjata api milik
para penjajah. Tetapi kini kita tetap tak bisa diam, masih banyak hal yang
perlu diperjuangan demi bangsa ini. Kita yang mengira telah benar-benar merdeka,
sebenarnya sedang menjadi umpan lezat bagi negara-negara tetangga yang
sebenarnya tahu dimana letak kelemahan kita.
Mereka
mengetahui dimana letak kelemahan kita, bukanlah suatu hal yang baru. Bahkan
sebenarnya kita sadar namun tidak berusaha memperbaiki. Semua memilih diam,
mencoba menutupi dan pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kita
ini terlalu mempedulikan dan mengangkat hal-hal kecil dan mengubur dalam-dalam
hal-hal yang besar. Bukan maksud kita diamkan juga hal kecil, tetapi jangan
kubur hal besar. Terlalu menonjolkan apa yang sebenarnya tidak terlalu
masyarakat perlu untuk tahu. Masyarakat sudah terlalu hafal apa saja yang ada
di negeri ini tanpa mereka tahu hal apa yang sebenarnya ada didalamnya. Tanpa
mereka sadari hal itu sebenarnya sedang berusaha “menutupi” masalah lain yang
seharusnya lebih menjadi pusat perhatian bangsa. Berhenti untuk tetap diam dan
menutup mata, telinga serta mulut untuk mulai melakukan gerakan. Kita tahu dan
memang harus tahu masalah utama yang sedang dialami negeri ini. Hentikan impor
bahan pangan dan mulailah mengangkat bahan pangan negeri dan jika mampu lebih
baik kita yang ekspor ke negara tetangga. Mulailah menyukai segala produk dalam
negeri, bukan hanya berupa saran tetapi buktikan kalau produk dalam negeri
mempunyai kualitas yang setara bahkan lebih baik dari produk luar.
Selain
itu, sadarkah bencana apa yang paling sering melanda negeri kita, khususnya ibu
kota? Ya Banjir menjadi hal yang biasa. Mendengar musim rambutan, musim mangga,
musim kemarau, musim hujan, lalu apa bisa dikatakan musim banjir dan dianggap hal
yang biasa seperti musim-musim lainnya yang tadi disebutkan? Jangan hanya
berkata, tetapi lakukanlah sebuah tindakan, jangan hanya mengandalkan orang
tetapi cobalah mulai dari diri sendiri. Jangan terlalu dan selalu mengemis
kinerja pemerintah untuk memperbaiki itu semua, tetapi cobalah berkaca apakah
kiranya tindakan kita sendiri sudah benar dalam menghindari banjir. Apakah kita
pernah berjuang demi bangsa, melindungi serta merawat sumber daya alam dan
lingkungan negeri ini. Wujudkan sudut pandang kaca mata Koes Ploes dalam lirik
lagu ‘Kolam Susu’, bahwa negeri kita ini kaya, negeri kita ini luar biasa,
tanah air kita ini adalah tanah surga. Bangkitkan perjuangan bangsa dalam
mempertahankan kemerdekaan, karena tanah surga ini terlalu indah untuk terjajah
kembali.
No comments:
Post a Comment